Label

Jumat, 23 Maret 2012

Limbah Sawit menjadi Obat Nyamuk - KIR SMAN 1 Cileles Juara 1 Kategori Kimia di Jakarta


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang  luas dan memiliki kekayaan alam yang banyak, Letak astronomis Indonesia berada di garis khatulistiwa. Selain itu Indonesia juga mempunyai dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan. Karena memiliki iklim dua musim maka negara  Indonesia termasuk ke dalam negara beriklim tropis, sehingga memiliki berbagai macam keanekaragaman hayati berupa flora dan fauna.
Selain kekayaan flora Indonesia juga memiliki kekayaan fauna. Kekayaan faunapun banyak sekali misalnya serangga (insekta). Salah satu jenis serangga atau insekta yang banyak ditemukan di Indonesia adalah nyamuk. Nyamuk merupakan jenis serangga yang memiliki banyak jenis, seperti nyamuk malaria, nyamuk aedes, nyamuk anopheles dan nyamuk culek. Jenis-jenis nyamuk ini merupakan vektor berbagai jenis penyakit seperti malaria, demam berdarah dan kaki gajah.
Umumnya nyamuk dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Oleh karena itu manusia sejak dulu sudah memikirkan cara untuk membasmi nyamuk. Seiring dengan perkembangan zaman manusia mulai menemukan berbagai senyawa kimia yang dapat digunakan untuk membunuh nyamuk,  senyawa ini dikenal dengan istilah insektisida. Insektisida merupakan zat yang di gunakan masyarakat umum sebagai pembasmi serangga seperti : lalat, nyamuk, semut dan lain-lain. Contoh insektisida yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah racun serangga bakar, racun serangga semprot, dan racun serangga oles. Insektisida tersebut merupakan insektisida yang mengandung komposisi zat kimia sintetis yang beracun dan efektif dalam membasmi berbagai macam serangga. Banyak iklan jenis insektisida di media cetak ataupun elektronik yang efektif membunuh nyamuk , akan tetapi tidak ada yang berani mengatakan bahwa produk yang di gunakan ramah lingkungan (Intisari, 2007).
Penggunaan insektisida buatan dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek samping bagi kesehatan, sehingga diperlukan produk insektisida yang berbahan alami dan ramah lingkungan. Oleh karena itu kami mengangkat judul “Efektivitas Limbah Bunga Sawit Sebagai Bioinsektisida Nyamuk”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini adalah :
1.         Apakah limbah bunga sawit dapat dimanfaatkan untuk mengusir dan membunuh nyamuk ?
2.         Bagaimana efektivitas  limbah bunga sawit dalam mengusir dan membunuh  nyamuk?
3.         Bagaimana cara pembuatan bioinsektisida nyamuk dari limbah bunga sawit ?
                                                   
C.     Batasan Masalah
Penelitian yang dilakukan dibatasi pada pembuatan limbah serbuk bunga sawit dan  pengujian mortalitas nyamuk pada lingkup ruangan skala kecil, tidak pada lingkup ruangan skala besar.

D.    Tujuan
Berdasarkan pada rumusan masalah, maka tujuan penelitian yang dilakukan :
1.         Untuk mengetahui pemanfaatan limbah bunga sawit sebagai bionsektisida nyamuk.
2.         Untuk mengetahui efektivitas  limbah bunga sawit dalam mengusir dan membunuh  nyamuk.
3.         Untuk mengetahui cara pembuatan bioinsektisida nyamuk dari limbah bunga sawit.

E.     Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian yang sudah ada, maka dapat dibuat hasil pemikiran sementara yang bersifat rasional yang disebut sebagai hipotesis. Selanjutnya, dilakukan uji kebenaran terhadap hipotesis tersebut dengan melakukan penelitian. Adapun hipotesis penelitian ini adalah “limbah bunga sawit berpotensi mengusir dan membunuh  nyamuk dengan efektif.”
F.      Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh  dari penelitian ini sebagai berikut:
1.                  Bagi Masyarakat
a.       Dapat memanfaatkan limbah bunga sawit sebagai bioinsektisida  nyamuk.
b.      Membantu masyarakat untuk mengurangi gangguan  dari nyamuk pada saat musim panas tiba.
2.                  Bagi Peneliti
a.       Dapat menjadi pembelajaran dan pengetahuan tentang bioinsektisida nabati, yaitu mengetahui cara penanggulangan serangga secara efektif dan aman serta ramah lingkungan.
b.      Dapat menjadi daya tarik untuk dilakukan penelitian lanjutan yang bisa menambah manfaat dan nilai guna dari limbah bunga sawit.
3.                  Bagi Pemerintah
a.       Dapat menjadi informasi tambahan dari nilai guna limbah bunga sawit sebagai bioinsektisida nyamuk yang ramah lingkungan.
b.      Dapat mendorong pemerintah untuk lebih serius dalam mengembangkan penelitian di kalangan pelajar.














BAB II
TELAAH PUSTAKA


A.     Morfologi Bunga Kelapa Sawit  
Klasifikasi kelapa sawit adalah sebagai berikut :
Divisi          : Spermatophyta
Sub divisi    : Angiospermae
Kelas          : Monocotyledonae
Keluarga     : Palmaceae
Genus         : Elaeis
Spesies       : Elaeis guineensis Jacq
          Tanaman kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina.  Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang, sedangkan bunga betina agak bulat.  Tanaman kelapa sawit mengadakan penyerbukan silang (cross pollination).  Artinya, bunga betina dari pohon yang satu dibuahi oleh bunga jantan dari pohon yang lainnya dengan perantaraan angin dan atau serangga penyerbuk. 
          Bunga kelapa sawit berumah satu, artinya pada satu batang terdapat bunga jantan dan bunga betina yang letaknya terpisah pada tandan bunga yang berbeda. Tandan bunga terletak di ketiak daun, mulai tumbuh setelah tanaman berumur sekitar satu tahun.  Primordia (bakal) bunga terbentuk sekitar 33 sampai 34 bulan sebelum bunga matang (siap melaksanakan penyerbukan).  Letak bunga jantan yang satu dengan lainnya sangat rapat dan membentuk cabang-cabang bunga yang panjangnya antara 10 sampai 20 cm.
          Pada tanaman dewasa, satu tandan mempunyai kurang lebih 200 cabang bunga. Setiap cabang mengandung 700 sampai 1200 bunga jantan.  Bunga jantan ini terdiri dari 6 helai benangsari dan 6 perhiasan bunga. Satu tandan bunga jantan dapat menghasilkan 25 sampai 50 gram tepungsari.  Bunga betina terletak dalam tandan bunga, tiap tandan bunga mempunyai 100-200 cabang dan setiap cabang terdapat paling banyak 30 bunga betina. Dalam satu tandan terdapat 3.000 sampai 6.000 bunga betina.  Bunga betina memiliki 3 putik dan 6 perhiasan bunga.  
          Bunga jantan maupun bunga betina biasanya terbuka selama 2 hari (jika dalam musim hujan bisa sampai 4 hari). Tepung sari dapat menyerbuki selama 2-3 hari, tetapi makin lama daya hidup viabilitasnya makin menurun.
 


      

             
         (a)                                                (b)                                                       (a)                         (b)                           (c)                         (d)
Gambar 2.1 Bunga jantan dan bunga betina kelapa sawit
            Keterangan  : 
      a). bunga jantan                                 b). bunga betina 
      c). bunga betina masa anthesis           d). bunga jantan masa anthesis
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman monoecius, dimana bunga jantan dan bunga betina tumbuh secara terpisah pada satu tanaman. Masa masak atau “anthesis” dari kedua jenis bunga tersebut sangat jarang atau tidak pernah bersamaan. Ini berarti bahwa proses pembuahan bunga betina dengan diperolehnya tepung sari dari tanaman lainnya. Proses penyerbukan dapat terlaksana apabila ada perantara yang mampu memindahkan tepung sari dari satu tanaman ke tanaman lain yang mempunyai bunga betina yang sedang mekar atau “receptive”. Hasil penelitian membuktikan bahwa proses penyerbukan tersebut sebagian besar berlangsung dengan bantuan serangga dan sebagian kecil oleh angin (Siregar, 2006).
Bunga kelapa sawit yang sedang mekar, baik itu bunga jantan maupun bunga betina sama-sama mengeluarkan bau yang menyengat. Bunga jantan yang sedang anthesis memiliki bau yang kebih kuat dibandingkan dengan bunga betina. Ini disebabkan oleh senyawa volatil yang dikeluarkan oleh bunga jantan lebih banyak. Senyawa volatil yang dihasilkan oleh bunga kelapa sawit pada umumnya diketahui sebagai kairomon. Senyawa volatil yang dproduksi dan dilepaskan oleh bunga kelapa sawit berfungsi untuk menarik serangga yang menguntungkan untuk reproduksi kelapa sawit, yakni agar serangga penyerbuk berkunjung dan menyerbuki kelapa sawit (Susanto et al., 2007). Kairomon berfungsi sebagai atraktan (penarik), arestan (menghentikan pergerakan serangga), dan exitan yaitu senyawa yang merangsang serangga dalam seleksi inang.
Hasil analisis GC-MS memperlihatkan bahwa jenis dan kandungan volatil pada bunga sawit yang mengandung indol, asam undekanoat, asam palmitat, estragole, asam 2-oninnoat asam chloroacetic, 4 tetra decyl ester, estragol,1-dodesin, farnesol dan squalen (Suci Rahayu,2006).

B.     Nyamuk
            Hidup di daerah tropis memang selalu direpotkan dengan kehadiran nyamuk. Nyamuk adalah serangga yang tergolong dalam order Diptera; genera termasuk Anopheles, Culex, Psorophora, Ochlerotatus, Aedes, Sabethes, Wyeomyia, Culiseta, dan Haemagoggus untuk jumlah keseluruhan sekitar 35 genera yang merangkum 2700 spesies (Wapedia, 2008). Nyamuk mempunyai dua sayap bersisik, tubuh yang langsing, dan enam kaki panjang, antarspesies berbeda-beda tetapi jarang sekali melebihi 15 mm seperti yang terlihat pada gambar 2.2.
 





                                                                                           (Sumber : Yahya, 2004)

Gambar 2.2 Nyamuk
            Pada nyamuk betina, bagian mulutnya membentuk probosis panjang untuk menembus kulit mamalia (atau dalam sebagian kasus burung atau juga reptilia dan amfibi untuk menghisap darah). Nyamuk betina memerlukan protein untuk pembentukan telur dan oleh karena diet nyamuk terdiri dari madu dan jus buah, yang tidak mengandung protein, kebanyakan nyamuk betina perlu menghisap darah untuk mendapatkan protein yang diperlukan. Nyamuk jantan berbeda dengan nyamuk betina, dengan bagian mulut yang tidak sesuai untuk menghisap darah (Yahya, 2004).
           
C.     Bioinsektisida 
            Masa sekarang ini adalah masa serba instan. Tak sedikit insektisida yang ditawarkan dalam bentuk praktis, mudah dan ampuh. Namun tanpa disadari jika penggunaannya sembarang akan terdapat berbagai ancaman, baik terhadap kesehatan maupun terhadap alam dan lingkungan. Hal itu dikarenakan, banyak insektisida sintesis mengandung bahan kimia yang berbahaya yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara (Intisari, 2006), yaitu:  
  1. Termakan atau terminum bersama makanan atau minuman yang tercemar.
  2. Terhirup dalam bentuk gas dan uap, termasuk yang langsung menuju paru-paru lalu masuk ke dalam aliran darah.
  3. Terserap melalui kulit dengan atau tanpa terlebih dahulu menyebabkan luka pada kulit.
            Bila racun anti nyamuk termasuk kelompok insektisida sintesis yang mengandung bahan kimia, artinya obat anti nyamuk tersebut mengandung racun. Hal itu dibuktikan dalam Penelitian YLKI  (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) yang menemukan tiga bahan aktif di dalam obat anti nyamuk yaitu jenis dichlorvos, propoxur, pyrethroid, dan diethyltoluamide serta bahan kombinasi dari ketiganya (Intisari, 2006). Berberapa contoh obat anti nyamuk dalam berbagai bentuk yang terdapat di pasaran dapat dilihat pada gambar 2.1.
 






           
                                                                                                (Sumber : wordpress, 2008)

Gambar 2.3 Contoh Obat Anti Nyamuk di Pasaran
            Menurut WHO, Grade Class, dichlorvos atau DVDP (dichlorovynill dimetyl phosphat) termasuk berdaya racun tinggi. Jenis bahan aktif ini dapat merusak sistem saraf, mengganggu sistem pernapasan, dan jantung (Intisari, 2006). Lembaga di Amerika yang bergerak dalam perlindungan lingkungan yakni Environment Protection Authority (US EPA) dan New Jersey Department of Health merekomendasikan hal sama. Dichlorvos sangat berpotensi menyebabkan kanker, menghambat pertumbuhan organ serta kematian prenatal, merusak kemampuan reproduksi dan kemampuan menghasilkan air susu. Bagi lingkungan, bahan aktif jenis ini menimbulkan gangguan cukup serius bagi hewan dan tumbuhan, sebab bahan ini memerlukan waktu yang lumayan lama untuk dapat terurai baik di udara, air, dan tanah.
            Penggunaan pestisida berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi pengguna, konsumen, lingkungan, serta dampak sosial ekonomi. Oleh karena itu, penggunaan pestisida harus digunakan hati-hati. Penggunan pestisida bisa mengontaminasi pengguna secara langsung sehingga mengakibatkan keracunan. Keracunan tersebut dapat bersifat akut ringan, akut berat, dan kronis. Keracunan akut ringan menimbulkan pusing, sakit kepala, iritasi kulit ringan, badan terasa sakit, dan diare. Keracunan akut bert menimbulkan gejala mual, menggigil, kejang perut, sulit bernafas, keluar air liur, pupil mata mengecil, dan denyut nadi meningkat. Dapat juga mengakibatkan pingsan, kejang-kejang, bahkan mengakibatkan kematian. Keracunan kronis lebih sulit dideteksi karena tidak segera terasa dan tidak menimbulkan gejala serta tanda yang spesifik. Namun, keracunan kronis dalam jangka waktu yang lama bisa menimbulkan gangguan kesehatan seperti iritasi mata dan kulit, kanker, keguguran, cacat pada bayi, serta gangguan saraf, hati, ginjal, dan pernafasen (Djojosumarto, 2006).
Sementara, propoxur termasuk racun kelas menengah. Jika terhirup maupun terserap tubuh manusia dapat mengaburkan penglihatan, keringat berlebih, pusing, sakit kepala, dan badan lemah. Propoxur juga dapat menurunkan aktivitas enzim yang berperan pada saraf transmisi, dan berpengaruh buruk pada hati dan reproduksi. Pyrethroid, oleh WHO juga dikelompokkan dalam racun kelas menengah. Efeknya, mengiritasi mata maupun kulit yang sensitif, dan menyebabkan penyakit asma. Pada obat anti nyamuk, pyrethroid yang digunakan berupa d-allethrin, transflutrin, bioallethrin, pralethrin, d-phenothrin, cyphenothrin, atau esbiothrin.
            Dengan demikian, untuk mengusir serangga sebaiknya dipergunakan bioinsektisida dan pengusir hama dari tumbuh-tumbuhan yang mudah terurai di alam. Bioinsektisida adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu (Suhaya, 2008). Bioinsektisida ini dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh dan bentuk lainnya.
            Secara umum bioinsektisida diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam karena terbuat dari bahan alami/nabati sehingga tidak mencemari lingkungan, dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan.



















BAB III

Pecinta Alam SMAN 1 Cileles

Rabu, 21 Maret 2012

PERILAKU MEROKOK DAN PENGGUNAAN NARKOBA PADA REMAJA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali ditemui orang merokok di mana-mana, baik di kantor, di pasar ataupun tempat umum lainnya atau bahkan di kalangan rumah tangga sendiri. Kebiasaan merokok dimulai dengan adanya rokok pertama. Umumnya rokok pertama dimulai saat usia remaja. Sejumlah studi menemukan penghisapan rokok pertama dimulai pada usia 11-13 tahun. Studi Mirnet (Tuakli dkk, 1990) menemukan bahwa perilaku merokok diawali oleh rasa ingin tahu dan pengaruh teman sebaya. Smet (1994) bahwa mulai merokok terjadi akibat pengaruh lingkungan sosial.  Modelling  (meniru perilaku orang lain) menjadi salah satu determinan dalam memulai perilaku merokok.
Perilaku merokok pada remaja umumnya semakin lama akan semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangannya yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas merokok, dan sering mengakibatkan mereka mengalami ketergantungan nikotin. Efek dari merokok hanya meredakan kecemasan selama efek dari nikotin masih ada, malah ketergantungan nikotin dapat membuat seseorang menjadi tambah stres.
Pengaruh nikotin dalam merokok dapat membuat seseorang menjadi pecandu atau ketergantungan pada rokok. Remaja yang sudah kecanduan merokok pada umumnya tidak dapat menahan keinginan untuk tidak merokok, mereka cenderung sensitif terhadap efek dari nikotin.
Perilaku menyimpang lainnya yang tumbuh di kalangan masyarakat akibat kurang seimbangnya masalah ekonomi, terutama terhadap para remaja Indonesia yaitu sering menggunakan minum-minuman keras dan obat-obatan terlarang. Mungkin mereka kurang perhatian dari orang tua mereka atau mungkin juga karena ajakan para pemakai atau teman-temannya.
Penyalahgunaan narkoba terhadap para pelajar SMA dan SMP berawal dari penawaran dari pengedar narkoba. Mula-mula mereka diberi beberapa kali dan setelah mereka merasa ketergantungan terhadap narkoba itu, maka pengedar mulai menjualnya. Setelah mereka saling membeli narkoba, mereka disuruh pengedar untuk mengajak teman-temannya yang lain untuk mencoba obat-obatan terlarang tersebut.
Narkoba biasanya dikonsumsi oleh anak-anak orang kaya, yang kurang perhatian dari orang tuanya. Biasanya mereka mengkonsumsi jenis pil lexotan dan Extaci karena proses pembelian dan penggunaannya lebih mudah dan praktis. Pada mulanya mereka minum minuman beralkohol di diskotik atau bar, tetapi lama kelamaan mereka mulai memakai narkoba.

B.     Rumusan Masalah
Permasalahan yang dikemukakan dalam makalah ini adalah problematika remaja, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal itu harus dapat dibuktikan dengan pemikiran yang benar dan tepat.
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.      Apakah penyebab perilaku merokok dan penggunaan narkoba pada remaja?
2.      Apa dampak dari perilaku merokok dan penggunaan narkoba pada remaja?
3.      Bagaimana cara menanggulangi perilaku merokok dan penggunaan narkoba pada remaja?
4.      Adakah peranan dan bimbingan dari orang tua, guru, masyarakat, atau media pendidikan akan membawa sikap dan perilaku dari remaja itu lebih baik ke depannya nanti?

C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.       Menegetahui penyebab perilaku merokok dan penggunaan narkoba pada remaja.
2.       Mengetahui dampak perilaku merokok dan penggunaan narkoba pada remaja.
  1. Mengetahui cara menanggulang perilaku merokok dan penggunaan narkoba pada remaja.
  2. Mengetahui seberapa kuat pengaruh dari orang tua, guru, peran masyarakat, dan media pendidikan dalam membentuk kepribadian para remaja.
  3. Memberi motivasi kepada orang tua, guru, peran masyarakat, dan media pendidikan supaya lebih santai dan lebih benar dalam menyelesaikan berbagai permasalahan remaja saat ini.

D.    Hipotesis
Berdasarkan tinjauan referensi yang telah didapat, kami mengambil hipotesis bahwa:
1.      Penyebab perilaku merokok dan penggunaan narkoba pada remaja adalah faktor internal (dari dalam) dan eksternal (dari luar) atau faktor lingkungan.
2.      Dampak yang ditimbulkan oleh rokok dan narkoba adalah memicu berbagai penyakit, kecanduan, tindak kriminal, bahkan kematian.
3.      Cara penanggulangan dari perilaku merokok dan penggunaan narkoba adalah pengawasan orang tua di rumah, guru di sekolah dan masyarakat.

E.     Manfaat Penelitian
Penelitian ini juga bermanfaat untuk:
1.      Memberikan informasi ke orang tua dan guru bahwa penelitian ini dapat digunakan untuk menyikapi, menanggulangi, dan menyadarkan kepada anak dan anak didiknya.
2.      Memberikan semangat baru dalam pendidikan pergaulan remaja, termasuk di rumah dan di sekolah.
3.      Memberikan pengetahuan yang lebih baru dan lebih luas tentang remaja.
4.      Memberikan rasa percaya diri dan keberanian bagi para remaja.
5.      Memberikan rasa lebih berhati-hati dan lebih peduli dengan lingkungan pergaulannya.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Pengertian Tentang Remaja
Remaja dalam pengertian umum diartikan masa baliq atau keterbukaan terhadap lawan jenis. Konsep ini tidak jauh berbeda dengan Poerwadarminta (1984: 813) yang menyatakan remaja adalah: (1) mulai dewasa; sudah sampai umur untuk kimpoi, (2) muda (tentang anak laki-laki dan perempuan); mulai muncul rasa cinta birahi.
Batasan remaja menurut Drajat (1989: 69) yaitu masa pemilihan yang ditempuh oleh anak menjadi dewasa. Dengan arti lain sebuah situasi yang menjembatangi menuju ke tingkat dewasa. Masa remaja ini berlangsung kira-kira 13 tahun sampai 16 tahun atau 17 tahun. Akhir masa remaja antara usia 16 tahun sampai 18 tahun.
Pendapat Suardi (1986: 98) yang menyatakan remaja adalah masa perantara dari masa anak-anak menuju dewasa yang bersifat kompleks, menyita banyak perhatian dari remaja itu sendiri dengan orang lain, dan masa penyesuaian diri terdidik.
Beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa remaja adalah suatu masa atau periode menuju tahap dewasa yang ditandai dengan umur berkisar antara 13 – 18 tahun, mulai tertarik kepada lawan jenis, dan memiliki permasalahan yang kompleks.

B.     Perilaku Merokok
Bermacam-macam bentuk perilaku yang dilakukan manusia dalam menanggapi stimulus yang diterimanya, salah satu bentuk perilaku manusia yang  dapat diamati adalah perilaku merokok. Merokok telah banyak dilakukan pada zaman tiongkok kuno dan romawi, pada saat itu orang sudah menggunakan suatu ramuan  yang mengeluarkan asap dan menimbulkan kenikmatan dengan jalan dihisap melalui hidung dan mulut (Danusantoso, 1991).
Masa sekarang, perilaku merokok merupakan perilaku yang telah umum dijumpai. Perokok berasal dari berbagai kelas sosial, status, serta kelompok umur  yang berbeda, hal ini mungkin dapat disebabkan karena rokok bisa didapatkan dengan mudah dan dapat diperoleh dimana pun juga.
Poerwadarminta (1995) mendefinisikann merokok sebagai menghisap rokok, sedangkan rokok sendiri adalah gulungan tembakau yang berbalut daun nipah atau kertas. Merokok adalah menghisap asap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan menghembuskannya kembali keluar (Armstrong, 1990).
Danusantoso (1991)  mengatakan bahwa asap rokok selain merugikan diri sendiri juga dapat berakibat bagi orang-orang lain yang berada disekitarnya. Pendapat lain menyatakan bahwa perilaku merokok adalah sesuatu yang dilakukan seseorang berupa membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap yang dapat terhisap oleh orang-orang disekitarnya (Levy, 1984).
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok  adalah suatu kegiatan atau aktivitas membakar rokok dan kemudian menghisapnya dan menghembuskannya keluar dan dapat menimbulkan asap yang dapat terhisap oleh orang-orang disekitarnya.

C.    Tipe Perilaku Merokok
Seperti yang diungkapkan oleh Leventhal & Clearly (Komasari & Helmi, 2000) terdapat 4 tahap dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu :
1.      Tahap Prepatory. Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat atau  dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbulkan minat untuk merokok.
2.      Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan atau tidak terhadap perilaku merokok.
3.      Tahap Becoming a Smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak empat batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi perokok.
4.      Tahap Maintenance of Smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah  satu bagian dari cara pengaturan diri (self regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.
Menurut Smet (1994) ada tiga tipe perokok yang dapat diklasifikasikan menurut banyaknya rokok yang dihisap. Tiga tipe perokok tersebut adalah:
1.      Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari.
2.      Perokok sedang yang menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari.
3.      Perokok ringan yang menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari.

D.    Narkoba (Obat-Obatan Terlarang)
Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif lainnya. Terminologi narkoba familiar digunakan oleh aparat penegak hukum; seperti polisi (termasuk didalamnya Badan Narkotika Nasional), jaksa, hakim dan petugas Pemasyarakatan. Selain narkoba, sebutan lain yang menunjuk pada ketiga zat tersebut adalah Napza yaitu Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Istilah napza biasanya lebih banyak dipakai oleh para praktisi kesehatan dan rehabilitasi. Akan tetapi pada intinya pemaknaan dari kedua istilah tersebut tetap merujuk pada tiga jenis zat yang sama.

E.     Macam-macam Narkoba dan Efek Penggunaannya
Narkoba terbagi menjadi beberapa kelompok, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Cannabis (ganja, cimeng, mariyuana, hashis, rumput, grass)
Ganja bahan aktifnya tetrahidrocanabinol yang dapat membuat hilang kesadaran atau fly/teler.
Efek penggunaan Ganja: gelisah, lemas dan ingin tidur terus, perasaan gembira dan selalu tertawa untuk hal yang tidak lucu, nafsu makan besar, persepsi tentang benda berubah Akibat jangka panjang, gangguan memori otak / pelupa, sulit berfikir dan konsentrasi, dan suka bengong.
2.      Ecstasy (inex, kancing)
Tergolong jenis zat psikotropika. Jenisnya antara lain : apel, alladin, elektric, gober, butterfly, dan lain-lain.  Bahan ecstasy sering dicampur dengan zat-zat kimia berbahaya seperti insektisida dan pil KB.
Efek penggunaan ecstasy: syaraf otak rusak, dehidrasi, gangguan lever, tulang dan gigi keropos, tidak nafsu makan, waktu tidur terganggu (jet lag), syaraf mata rusak, dan paranoid.
3.      Shabu-shabu (ubas, ss, mecin).
Nama aslinya methamphetamine. Berbentuk kristal seperti gula atau bumbu penyedap masakan. Jenisnya antara lain gold river, coconut, dan kristal.
Efek yang ditimbulkan: menjadi bersemangat, paranoid, gelisah, tidak bisa diam, tidak ingin makan, tidak bisa tidur, otak sulit berfikir dan konsentrasi, dan kesehatan terganggu karena menyerang fungsi lever dan darah.
4.      Putaw (PT, bedak, putih)
Putaw adalah sejenis heroin dengan kadar lebih rendah (heroin kelas lima atau enam). Zat ini berasal dari sari bunga opium. Putaw terdiri dari beberapa jenis antara lain banan dan snow whitee. Bentuknya seperti bedak dan dijual dalam bentuk paket gram atau paketan gauw.
Efek pemakaian putaw: mata menjadi sayu - Menjadi pendiam, mengantuk-  mata berair, pucat-badan menjadi kurus/mual-mual, bicara tidak jelas-sulit berfikir, tidak dapat konsentrasi-pemarah dan temperamental, cadel-pandai berbohong, hidung gatal - plin-plan, menyebabkan kelumpuhan - kematian bila overdosis, terkena gangguan darah dan darah.
5.      Bahan adiktif lainnya seperti;
Lem aica aibon, thinner, bensin, spritus, jamur kotoran kerbau dan kecubung. Penyalahgunaan narkoba selain merugikan kesehatan diri sendiri juga berdampak negatif terhadap kehidupan ekonomi dan sosial seseorang. Penyalahgunaan narkoba dapat merusak ekonomi karena sifat obat yang membuat ketergantungan, dimana tubuh pengguna selalu meminta tambahan dosis dan dengan harga obat-obatan jenis narkoba yang tergolong relatif mahal maka hal tersebut secara ekonomis sangat merugikan.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan besarnya perbedaan sikap, sifat, dan perilaku melalui perbandingan antara kelompok satu dengan yang lain. Kelompok 1 mengawasi sikap, sifat, dan perilaku anak remaja yang berada di lingkungan sekolah (siswa). Sementara itu, Kelompok 2 mengawasi sikap, sifat, dan perilaku yang berada di linkungan masyarakat (remaja yang tidak sekolah). Hasilnya akan dikumpulkan dan akan disimpulkan.

B.     Populasi dan Sampel
Populasi dari penelitian ini adalah para remaja-remaja biasa antara SMA/MA dan masyarakat tertentu (remaja yang tidak sekolah).

C.    Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat penelitian yang digunakan hanyalah buku catatan dan bolpin. Dengan alat-alat ini, diperoleh data dan hasil yang valid dan betul. Selanjutnya dibuat laporan dengan cara pengetikan komputer.

D.    Pengumpulan Data
Data-data laporan dari tim pencatat di lapangan sampai dengan waktu yang telah ditentukan, dilakukan setiap hari itu akan dikumpulkan menjadi satu dan akan disusun dalam satu buku. Kemudian data-data itu akan diurutkan menurut waktu pengambilan data. Barulah setelah rampung semua, data-data itu akan disimpulkan.

E.     Teknis Analisis Data
Data kualitatif yang dkumpulkan per hari oleh tim pencatat itu, kemudian diurutkan menurut waktu kejadian. Hasil-hasil ini yang bersifat valid atau nyata, ini kemudian disimpulkan kembali sampai sesuai dengan hipotesis penelitian. Apabila hasilnya tidak sesuai, maka harus melakukan eksperimen atau penelitian kembali mengenai masalah ini.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Remaja
Menurut Mu`tadin (2002) mengemukakan alasan mengapa remaja merokok, antara lain:
1.      Pengaruh Orang Tua
Menurut Baer & Corado, remaja perokok adalah anak-anak yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dibandingkan dengan remaja yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia. Remaja yang berasal dari keluarga konservatif akan lebih sulit untuk terlibat dengan rokok maupun obat-obatan dibandingkan dengan keluarga yang permisif, dan yang paling kuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur contoh yaitu perokok berat, maka anak-anaknya akan mungkin sekali untuk mencontohnya. Perilaku merokok lebih banyak didapati pada mereka yang tinggal dengan satu orang tua (Single Parent). Remaja berperilaku merokok apabila ibu mereka merokok daripada ayah yang merokok. Hal ini lebih terlihat pada remaja putri.
2.      Pengaruh Teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin benyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan  demikian sebaliknya. Ada dua kemungkinan yang terjadi dari fakta tersebut, pertama remaja tersebut terpengaruh oleh teman-temannya atau sebaliknya. Diantara remaja perokok terdapat 87 % mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok.
3.      Faktor Kepribadian
Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit dan kebosanan. Satu sifat kepribadian yang bersifat pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Pendapat ini didukung Atkinson (1999) yang menyatakan bahwa orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih menjadi perokok dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah.

4.      Pengaruh Iklan
Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut.

Pendapat lain dikemukakan oleh Hansen ( Sarafino, 1994) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok, yaitu:
1.      Faktor Biologis
Banyak Penelitian menunjukkan bahwa nikotin dalam rokok merupakan salah satu bahan kimia yang berperan penting pada ketergantungan merokok. Pendapat ini didukung Aditama (1992) yang mengatakan nikotin dalam darah perokok cukup tinggi.

2.      Faktor Psikologis
Merokok Dapat bermakna untuk meningkatkan konsentrasi, menghalau rasa kantuk, mengakrabkan suasana sehingga timbul rasa persaudaraan, juga dapat memberikan kesan modern dan berwibawa, sehingga bagi individu yang sering bergaul dengan orang lain, perilaku merokok sulit untuk dihindari.

3.      Faktor Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial berpengaruh terhadap sikap, kepercayaan dan perhatian individu pada perokok. Seseorang akan berperilaku merokok dengan memperhatikan lingkungan sosialnya.

4.      Faktor Demografis
Faktor ini meliputi umur dan jenis kelamin. Orang yang merokok pada usia dewasa semakin banyak ( Smet, 1994) akan tetapi pengaruh jenis kelamin Zaman sekarang sudah tidak terlalu berperan karena baik pria maupun wanita sekarang sudah merokok.

5.      Faktor Sosial-Kultural