Label

Senin, 08 Agustus 2011

MAKALAH MENGANALISIS JENIS KARYA SASTRA PUISI INDONESIA


BAB  I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah
Jenis puisi di Indonesia sebagai kreasi manusia selalu berkembang dari masa ke masa. Perkembangan puisi merupakan refleksi pemikiran penyair dalam menyikapi zaman, sekaligus menyikapi perpuisian itu sendiri. Akan tetapi, walaupun puisi berubah menjadi seribu macam bentuk, ada yang tetap melakat dalam puisi sebagai hakekatnya, yaitu menyampaikan sesuatu secara langsung. Hal itu merupakan pemikiran Riffaterre (lewat Sarjono, 2001:124) bahwa “a poem says one thing and means another”.
Di Indonesia, puisi telah mulai ditulis oleh Hamzah Fansuri dalam bentuk syair Melau dan ditulis dengan huruf Arab di akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 (Ismail, 2001:5).
Ahli-ahli sastra banyak yang membedakan dan membagi perpuisian Indonesia menjadi puisi lama dan puisi baru. Namun, apa yang disebut puisi lama itu masih tetap diapresiasi dan diproduksi sampai saat ini. Disamping itu, puisi baru juga tidak bisa melepaskan puisi lama karena ia bisa jadi ilham yang penuh keindahan untuk digarap.

1.2  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Ingin mengetahui definisi/ pengertian puisi.
2.      Untuk mengetahui unsur-unsur puisi.
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis puisi.
4.      Untuk mengetahui yang membedakan puisi dengan prosa

1.3  Fokus Penelitian
Adapun fokus penelitiannya adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan puisi?
2.      Apa saja unsur-unsur puisi?
3.      Apa saja jenis-jenis puisi?
4.      Apa yang membedakan puisi dengan prosa?

1.4  Sistematika Penulisan
Makalah ini kami disusun dalam tiga bab, yang tiap-tiap babnya terdiri dari:
BAB I       : Pendahuluan
-          Latar Belakang Masalah
-          Tujuan Penulisan
-          Fokus Penelitian
-          Sistematika Penulisan

BAB II    : Menganalisi Jenis Karya Satra Puisi Indonesia
-          Pengertian Puisi
-          Unsur-unsur Puisi
-          Jenis-jenis Puisi
-          Yang Membedakan Puisi dengan Prosa

BAB III   : Penutup
-          Simpulan
-          Saran
Daftar Pustaka


 

BAB II
MENGANALISIS JENIS KARYA SASTRA PUISI INDONESIA


2.1  Pengertian Puisi
Secara etimologis, kata puisi berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata Poesis yang artinya penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan poet dan poem. Mengenai kata poet, Coluter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunan yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepad dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglohatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindra, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
Menurut Kamus istilah Sastra (Sudjimanm 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9), Mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi yang konkret dan bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
Carlyle mengemukakan bahwa puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya disusun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti musik.
Samuel Taylor Coleridge mengemukakan bahwa puisi adalah kata-kata yang teridah dalam susunan terindah.
Ralph Waido Emerson (Situmorang, 1980:8), menyatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.
Putu Arya Tirtawirja (1980:9), menyatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang samar dimana kata-katanya condong pada kata konotatif.
Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran secara imajinasi dan disusun dengan mengkosentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengosentrasian struktur fisik dan struktur batinya.
Ada juga yang mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, digubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan.
2.2  Unsur-Unsur Puisi
Secara sederhana batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik, bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut:
a.       Kata, adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan kutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.
b.      Larik (baris), mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buah, tapi pada puisi baru tak ada batasan.
c.       Bait, merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna.
d.      Bunyi, dibentuk oleh irama dan rima. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau katra-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perualangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras-lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Dari sini dapat dipahami bahwa irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musiklasasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.
e.       Makna, adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.

Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi dibedakan menjadi:
a.       Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut:
1)      Tema/ makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
2)      Rasa (feeling), yaitu sikap penyari terhadap pokok permasalahan yanga terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rata erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya lata belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Ke dalam pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
3)      Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong menganggap bodoh dan rendah pembaca.
4)      Amanat/tujuan/maksud (intention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyari menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
b.      Struktur fisik puisi, atau terkadang pula disebut metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut:
1)      Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan berisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titilk. Hal-hal tersebut danga menentukan pemaknaan terhadap puisi.
2)      Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan opleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, makna kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 1987:68-69) menjelaska bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpanan yaitu; penyimpanan leksikal, penyimpanan semantis, penyimpanan fonologis, penyimpanan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/ profesi tertentu), penyimpanan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik).
3)      Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
4)      Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misalnya kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
5)      Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/ meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas.
6)      Versifikasi, yaitu menyangkut rima. Ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, di tengah, dan di akhir baris puisi. Rima mencakup (a) onomatope (tiruan terhadap bunyi) (b) bentuk intern pola bunyi (alterasi, asonasi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak, berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi) (c) pengulangan kata/ ungkapan. Ritme merupakan tinggi- rendah, panjang-pendek, keras-lembutnya bunyi.

2.3  Jenis-jenis Puisi
Berikut jenis-jenis puisi yang dirangkum oleh Waluyo (1995:135):
a.       Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriptif
1)      Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair baik secara sederhana, sugestif, atau kompleks. Contoh; romansa, epik dan syair.
2)      Puisi lirik, merupakan sarana penyair untuk mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadi (Waluyo, 1995:136). Contoh; elegi, ode dan serenada.
3)      Puisi deskriptif, penyair memberi kesan terhadap suatu peristiwa atau fenomena yang dipandang menarik perhatian penyari (Waluyo, 1995:137). Contoh: satire, dan puisi impresionistik.
b.      Puisi Kamar dan Puisi Auditorium
Pusi kamar adalah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja. Puisi auditorium adalah puisi yang cocok dibacakan di auditorium, mimbar yang jumlah pendengarnya bisa dikatakan banyak.
c.       Puisi Fisikal, Platonik, dan Metafisikal
Puisi fisikal berisi pelukisan kenyataan yang sebenarnya, apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh penyair. Puisi platonik adalah puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal kejiwaan atau spiritual. Puisi metafisikal adalah puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan atau ketuhanan.
d.      Puisi Subjektif dan Objektif
Puisi subjektif adalah puisi yang mengungkapkan gagasan, perasaan, pemikiran, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi objektif adalah puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri.
e.       Puisi Kongkret
Adalah puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahannya dari sudut penglihatan.
f.       Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis
Puisi diafan adalah yang kurang sekali menggunakan pengimajian, kata kongkret, dan bahasa dalam puisi mirip dengan bahsa sehari-hari. Puisi gelap adalah puisi yang terbentuk dari dominasi majas atau kiasan sehingga menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Puisi prismatis adalah puisi yang menggambarkan kemampuan penyair majas, diksi, dan sarana puitik yang lain, sehingga puisi bisa dikatakan sudah menjadi.
g.      Puisi Parnasian dan Puisi Inspitratif
Puisi parnasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirasi karena adanya modal dalam jiwa penyair. Puisi inspiratif diciptakan berdasarkan modal dan passion menyair.
h.      Stansa
Adalah jenis puisi yang masih mengikat bentuknya dalam kaidah baris, yaitu terdiri dari delapan baris.
i.        Puisi Demonstrasi
Puisi ini merupakan pelukisan dan hasil refleksi demonstrasi para mahasiswa dan pelajar.
j.        Alegori
Dalam KBBI, alegori adalah cerita yang dipakai sebagai lambang (kiasan) perikehidupan manusia yang sebenarnya untuk mendidik atau menerangkan sesuatu (gagasan, cita-cita atau nilai kehidupan, seperti kebijakan, kesetiaan, dan kejujuran).

2.4  Yang Membedakan Puisi dari Prosa
Slametmulya (1956:112) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara puisi dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedanglan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua, puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga, di dalam baris sajak ada periodisitas dari mulai sampai akhir.
Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).
Perbedaan lain terdapat pada sifat. Pusi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sigestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987).
Perbedaan lain adalah puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa secara langsung.

 


BAB III
PENUTUP


3.1  Simpulan
Berdasarkan uraian pada bab-bab di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa puisi meruapakan karya sastra yang mengungkapkan perasaan, pikiran baik imajinasi, maupun kongkrit yang bahasanya singkat, lugas, mempunyai keindahan, dan memiliki makna yang sangat luas. Puisi memiliki beberapa unsur diantaranya; kata, bait, larik, bunyi dan makna. Selain itu juga mempunyai unsur lain yaitu unsur batin puisi dan unsur fisik puisi.
Puisi terbagi menjadi beberapa jenis diantaranya; Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriptif, Puisi Kamar dan Puisi Auditorium, Puisi Fisikal, Platonik, dan Metafisikal, Puisi Subjektif dan Objektif, Puisi Kongkret, Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis, Puisi Parnasian dan Puisi Inspitratif, Stansa, Puisi Demonstrasi, dan Alegori.

3.2  Saran
Saran yang ingin disampaikan penulis dalam penyusunan makalah ini adalah:
1.      Pelajarilah karya sastra dengan baik agar kita memperoleh pengetahuan tentang karya sastra  terutama puisi.
2.      Dalam menulis karya sastra adalah suatu hal yang sangat menyenangkan dan bisa menjadi motivasi untuk menjadi seorang sastrawan. Oleh sebab itu, marilah kita belajar berkarya sastra.
3.      Tingkatkanlah prestasi belajar untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan.





KATA PENGANTAR


            Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat petunjuk dan bimbingan-Nya, penulis berhasil menyelesaikan makalah dengan judul  “Menganalisis Jenis Karya Sastra Puisi Indonesia” yang berisi pemahaman materi bagi siswa sebagai saran belajar agar siswa lebih aktif dan kreatif.
            Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak sekali mengalami bayak kesulitan karena kurangnya ilmu pengetahuan. namun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak akhirnya makalah ini dapat terselesaikan meskipun banyak kekurangan. Maka selayaknya penulis mengucapkan terima kasih kepada:
  1. Bapak Bambang Wiratmo, M.Pd, selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Cileles.
  2. Ibu Sri Nurlaela, selaku guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang berkenan membimbing dalam penyusunan makalah ini.
  3. Kedua orang tua yang memberikan dorongan dan bantuan baik secara moral maupun spiritual.
  4. Teman-teman yang membantu menyelesaikan makalah ini.
penulis menyadari sebagai seorang pelajar yang pengetahuannya belum seberapa dan masih perlu banyak belajar dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif untuk ksempurnaan makalah ini.
Penulis berharap mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat dan digunakan sebagai bahan pembelajaran di masa yang akan datang. Amiin.


Cileles,    Juli 2011
Penulis,






i
 
 

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR............................................................................        i
DAFTAR ISI..........................................................................................        ii

BAB    I           PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah............................................        1
1.2 Tujuan Penulisan.......................................................        1
1.3 Fokus Penelitian........................................................        1
1.4 Sistematika Penulisan................................................        2

BAB    II         MENGANALISIS JENIS KARYA SASTRA
                        PUISI INDONESIA
2.1 Pengertian Puisi.........................................................        3
2.2 Unsur-unsur Puisi......................................................        4
2.3 Jenis-jenis Puisi..........................................................        7
2.4 Yang Membedakan Puisi dengan Prosa....................        8

BAB    III        PENUTUP
3.1 Simpulan....................................................................        10
3.1 Saran..........................................................................        10

DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar